Kapan kita terakhir kali bertemu?
5 tahun?
10 tahun?
Atau bahkan lebih.
Yang pasti, pertemuan terakhir kita tidak berjalan baik.
Dan sekarang kita bertemu lagi.
Ya, mau gimana lagi.
Aku adalah kamu.
Kamu adalah aku.
Satu tubuh.
Beda pikiran.
Kita pasti bertemu.
Bertahun-tahun aku menghindar.
Terlalu berisik.
Terlalu bertentangan.
Hingga kubangun tembok menutupinya.
Menutupi dirimu.
Menutupi diriku.
Kupasang jendela.
Tapi tidak pintu.
Untuk melihat dunia luar.
Tapi tidak dirimu.
Kubiarkan dirimu mendekam di ruang gelap.
Mereka melihat kita adalah sama.
Aku tidak sependapat.
Meskipun kita adalah satu.
Kupasang pintu.
Untukku pergi ke luar.
Bosan juga berada di ruangan ini terus.
Di luar memang indah.
Beragam.
Di saat yang sama juga mencekam.
Menyudutkan.
Kucoba ambil bagian positifnya saja.
Belakangan semua menjadi sulit.
Dan hidup selalu punya kejutan.
Dan semua orang bisa tergantikan.
Dan bukan waktu yang menyembuhkan.
Dan tembok kembali membangun dirinya.
Aku jadi teringat meninggalkanmu di ruang gelap.
Kucoba membuat lubang kecil untuk mengintip.
Dirimu masih di sana.
Padahal bisa saja dirimu pergi.
Menghancurkan tembok yang kubuat.
Dirimu tahu, suatu saat aku akan kembali.
Aku masih ragu untuk bertemu dirimu.
Takut kejadian itu terulang.
Di saat kita saling menghabisi.
Tapi aku sadar.
Menghabisi dirimu juga berarti menghabisi diriku.
Karena itu kubangun tembok.
Kukumpulkan keberanian.
Kuhancurkan tembok yang aku buat.
Kudekap erat dirimu.
Kubawa dirimu melihat dunia luar.
Indah, bukan?
Tapi dirimu menentang.
"Tidak selamanya yang indah itu benar-benar indah."
Aku pun setuju.
"Tidak selamanya mendung itu suram."
Aku pun setuju.
Perkataanmu dulu dapat kupahami sekarang.
Kurasa meninggalkanmu dulu bukan pilihan yang tepat.
Memang beberapa orang harus dipukul keras-keras.
Agar tahu apa dan siapa yang menutup dan membukakan mata.
"Jadi, sekarang bagaimana?" tanyamu.
Kurasa dirimu sudah tahu jawabannya.
Kita jalani ini bersama.
Aku tidak bisa sendiri di luar sana.
Tidak buruk juga, bukan?
Kita berdamai.
5 tahun?
10 tahun?
Atau bahkan lebih.
Yang pasti, pertemuan terakhir kita tidak berjalan baik.
Dan sekarang kita bertemu lagi.
Ya, mau gimana lagi.
Aku adalah kamu.
Kamu adalah aku.
Satu tubuh.
Beda pikiran.
Kita pasti bertemu.
Bertahun-tahun aku menghindar.
Terlalu berisik.
Terlalu bertentangan.
Hingga kubangun tembok menutupinya.
Menutupi dirimu.
Menutupi diriku.
Kupasang jendela.
Tapi tidak pintu.
Untuk melihat dunia luar.
Tapi tidak dirimu.
Kubiarkan dirimu mendekam di ruang gelap.
Mereka melihat kita adalah sama.
Aku tidak sependapat.
Meskipun kita adalah satu.
Kupasang pintu.
Untukku pergi ke luar.
Bosan juga berada di ruangan ini terus.
Di luar memang indah.
Beragam.
Di saat yang sama juga mencekam.
Menyudutkan.
Kucoba ambil bagian positifnya saja.
Belakangan semua menjadi sulit.
Dan hidup selalu punya kejutan.
Dan semua orang bisa tergantikan.
Dan bukan waktu yang menyembuhkan.
Dan tembok kembali membangun dirinya.
Aku jadi teringat meninggalkanmu di ruang gelap.
Kucoba membuat lubang kecil untuk mengintip.
Dirimu masih di sana.
Padahal bisa saja dirimu pergi.
Menghancurkan tembok yang kubuat.
Dirimu tahu, suatu saat aku akan kembali.
Aku masih ragu untuk bertemu dirimu.
Takut kejadian itu terulang.
Di saat kita saling menghabisi.
Tapi aku sadar.
Menghabisi dirimu juga berarti menghabisi diriku.
Karena itu kubangun tembok.
Kukumpulkan keberanian.
Kuhancurkan tembok yang aku buat.
Kudekap erat dirimu.
Kubawa dirimu melihat dunia luar.
Indah, bukan?
Tapi dirimu menentang.
"Tidak selamanya yang indah itu benar-benar indah."
Aku pun setuju.
"Tidak selamanya mendung itu suram."
Aku pun setuju.
Perkataanmu dulu dapat kupahami sekarang.
Kurasa meninggalkanmu dulu bukan pilihan yang tepat.
Memang beberapa orang harus dipukul keras-keras.
Agar tahu apa dan siapa yang menutup dan membukakan mata.
"Jadi, sekarang bagaimana?" tanyamu.
Kurasa dirimu sudah tahu jawabannya.
Kita jalani ini bersama.
Aku tidak bisa sendiri di luar sana.
Tidak buruk juga, bukan?
Kita berdamai.
Comments
Post a Comment